Dilan 1990

137501_02546364-0ee4-4d4d-9277-2b51e6b7704c.jpg

Sumber: kaskus.co.id

Gw punya PDF novel ini sudah lama, tapi karena yang ke-2nya belum dapat, gw enggan memulai untuk membacanya. Sampai tau-tau dengar kabar kalau novel ini akan difilmkan. Awalnya ga terlalu terusik, sampai muncul pro kontra saat Pidi Baiq memilih Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan sebagai pemeran Dilan. Saking derasnya arus penolakan dari teman-teman gw yang sudah baca novelnya, gw pun jadi ikut-ikutan. Bodoh, baca saja belum. Tapi setelah baca review yang sudah nonton malah bilang kalau acting Iqbaal sebagai Dilan bagus. Ah.. Gw penasaran.

Tapi sebelum memutuskan untuk nonton, gw baca dulu deh novelnya. Sehari kelar. Sukaa.. Gw suka novel ini. Ada satu dua hal yang mengganjal tapi secara keseluruhan gw masih sangat menikmati. Gw review sekalian sama film-nya deh biar tidak mengulang.

MV5BYzM0NmQ2YzgtZWZkNC00N2JhLThjYzUtMDNlZDczMzJiMGY1XkEyXkFqcGdeQXVyNzkzODk2Mzc@._V1_UY1200_CR96,0,630,1200_AL_

Sumber: Imdb.com

Setelah gagal sehari sebelumnya, besok malamnya (31 Januari 2017), gw memutuskan untuk nonton. Kali ini cari aman dengan milih nonton di mall belakang. XXI nya sepi, gw bisa langsung ke counter tanpa perlu antri. Paling hanya menunggu Ai tiba saja. Dan lumayan lama, gw hampir ketiduran. Haha.

WhatsApp Image 2018-02-01 at 09.21.34

Sinopsis Dilan (versi gw): Kisah percintaan anak SMA antara Dilan dan Milea. Berlokasi di Bandung tahun 1990. Dilan adalah Panglima Tempur salah satu geng motor di Bandung. Memiliki Ayah Tentara dan Bunda Kepala Sekolah. Tapi meski jadi bagian geng motor, Dilan tetap berprestasi dengan menjadi juara di kelasnya. Sementara Milea adalah murid baru di sekolah Dilan, pindahan dari Jakarta karena mengikuti Ayahnya yang juga tentara. Ibu Milea adalah seorang artis. Dilan mendekati Milea dengan cara yang unik (mungkin) di jaman ini. Tapi rasanya di jaman itu begitu ya? Kirim-kiriman surat ke gebetan.

Tidak perlu gw menulis kembali detail cerita soal Dilan dan Milea ini. Toh kalau pun mau baca novelnya bisa dibeli di toko buku atau cari PDF nya. Lagian, review yang lain juga sudah mendalam sekali bahasnya.

Waktu novelnya selesai gw baca, hati gw berbunga-bunga. Sebut gw receh, ga masalah. Tapi itu yang gw rasakan. Entah dengan mu yang sudah baca, kalau buat gw, ini bawa nostalgia mendalam. Kisah kasih di SMA. Ai mungkin tidak akan relevan dengan kisah ini karena dia tidak pernah pacaran sebelum sama gw. Hihi. Atau bisa merasakan? Gw lupa tanya.

Dan seperti yang dialami teman lainnya, semalam pun suasana waktu nonton meriah sekali. Penuh dengan ahhh.. uuu.. gitu. Gw ingat, waktu Dilan mengeluarkan gombalannya ada 1 Bapak yang teriak..

Bisa aja lu tong“.. Sontak satu studio pun tertawa. Haha.

quotes-novel-milea

Sumber: Bukubiruku.com

Saran gw, buat kalian yang mau nonton, lebih baik bawa pasangan. Kenapa? Karena pas mendengar gombalannya rasanya langsung ingin uwel-uwel orang sebelah. Untuk yang jomblo? tetap bisa menikmati kok. Paling ada sedikit rasa perih dihati. XD

2017-05-10-1631209975230000-bohong

Sumber: Dagelan.co

Ok, setelah berpanjang-panjang, nanti ada yang protes terselubung bilang postingannya kepanjangan, akan gw taruh disini pros & cons novel dan film Dilan menurut versi gw.

Kita mulai dengan cons:

(-) Film ini terlalu text book, alias plek ketiplek novelnya. Makanya di beberapa adegan, katakan lah waktu ada Kang Adi muncul langsung dengan ekspresi cemburu, Ai bertanya, siapa dia?

(-) Dalam beberapa adegan terasa ada dialog yang memiliki ruang kosong sebelum lanjut ke dialog lain.

(-) Ada adegan yang sebenarnya tidak perlu ditayangkan, fake-nya jadi kelihatan. Yaitu adegan waktu Bunda mengantar Milea pulang.

(-) Penokohannya tidak sekuat di novel. Di film, peran Wati, Piyan, Anhar, dan yang lain hanya sekedar saja.

(-) Sampai film ini selesai, soundtracknya tidak mampir dihati. Gw bahkan lupa soundtracknya seperti apa. Biasanya selesai nonton, kalau soundtracknya enak langsung dicari. Padahal, setau gw banyak lagu asik di tahun itu. Biar sisi nostalgia makin menggebu.

Pros:

(+) Setelah gw selesai menonton film ini, gw ingin bertemu Pidi Baiq dan bilang “Terima kasih sudah memilih Iqbaal”. Iqbaal memerankan Dilan dengan sangat baik. Kesan anak motor tapi pintar dan juara di kelas dapat. Muka tengil saat sedang ngerjain Milea bagus. Gombalannya? Lancar sekali. Kena sampai ke hati gw. Ah.. Dilan. Kakak jadi terbayang-bayang nih.

(+) Chemistry antara Dilan dan Milea kuat banget. Cara mereka memandang satu dengan yang lain itu seperti tatapan orang yang dimabuk cinta.

(+) Detail tahun 1990 sangat terlihat. Surat-suratan. Baju anak SMA masih longgar, baju kasualnya juga. Sepatu belum bermacam merek. Anak bengal selalu keluarin baju ditambah satu buku dilipat masukin celana belakang. Luka dikasih obat merah. Soal telepon umum yang mesti antri dan masukin koin kalau mau perpanjang waktu. Bahkan sampai ke kantong plastik pun khas sekali punya masa lampau, atau sudah jarang terlihat sih sekarang ini. Ya Tuhan, nostalgia sekali.

(+) Karena katanya berasal dari kejadian nyata, film ini beneran ringan sekali. Tidak ada konflik yang terlalu berlebihan. Selayaknya kehidupan anak SMA biasanya. Tapi ini bisa jadi kekurangan buat mereka penikmat drama.

(+) Saking ringannya, waktu 110 menit seperti terlewat begitu saja. Sampai-sampai gw lupa kalau diluar ada kejadian langka yang hanya terjadi 152 tahun sekali, Super Blue Blood Moon. Terima kasih untuk kalian yang mengabadikan dan membaginya di media sosial.

Buat kalian yang sedang penat, sedang datar-datarnya perasaan ke pasangan, gw rekomen film ini. Siapa tau bisa mengingatkan, betapa berbunganya hati pada masa PDKT dulu. Betapa berjuangnya saat berusaha mencuri hatinya.

Sementara itu, silahkan nikmati quotes Dilan dibawah ini yang gw ambil dari berbagai sumber.

dilan_01

Kalau ada cowo bilang ini ke kamu dalam angkot, reaksi mu bagaimana?

2017-05-10-1705497801650000-selasa.jpeg

Dilan memang berbeda

dilan_02

Romantis tapi seram

dilan_09.jpg

Hadiah paling epic. Gw bertaruh, kamu saja tidak kepikiran kan?

16583391_253895105048889_641729197047283712_n.jpg

Bagaimana? Bikin hati membuncah? Atau ingin muntah?

Review: Senjakala di Manado

Setelah Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1, film ini adalah film ke dua yang saya tonton di bioskop setelah melahirkan. Cuma entah kenapa lupa saya ceritain disini. Ya udah lah ya XD

Alasan kuat kenapa saya merasa wajib banget nonton film ini ya so pasti karena di judul ada Manado-nya. Iya sesederhana itu. Apalagi pas dengar Ost. nya yang dinyanyiin Once Mekel.. Wah langsung catat dikalender tanggal penayangan perdananya. Syukur banget punya sohib yang juga punya pengertian yang sama bahwa nonton Film Indonesia itu ya di bioskop dan ga perlu sampai nunggu keluar di tv. Ya.. Kalau bukan kita, siapa lagi? 😊😊😊

Sinopsis a la saya: Film ini bercerita tentang kepulangan seorang Ayah bernama Joni Wempie Lengkong (Ray Sahetapy) yang meninggalkan istrinya Lucy (Mikha Tambayong) dan Mamanya (Rima Melati) ditengah malam untuk menjadi seorang pelaut. Disaat dia kembali ke rumah setelah 18 tahun, istrinya Lucy ternyata sudah meninggal karena sakit. Dan anaknya Pinkan (Mikha Tambayong) tidak langsung menerima kehadirannya. Pinkan mempunyai pacar bernama Brando (Fero Walandouw). Namun kehadiran Joni mengganggu hubungan Pingkan dan Brando. Joni merasa semua pria seperti dirinya. Brengsek. Apakah Joni berhasil memenangkan hati anaknya setelah 18 tahun terpisah? Benarkah Brando juga brengsek seperti Joni? Silahkan nonton sendiri.. Haha.. 

Lokasi pengambilan gambar film ini sepenuhnya di Manado, bahasa yang digunakan pun Manado. Ahh.. Langsung kangen kampung halaman. Cuma sayang nih, ada banyak hal yang mengganggu saya yang seorang detail oriented ini (entah istilah itu beneran ada atau enggak). Macam musiknya yang menurut saya terlalu ganggu saking kencangnya. Bahkan dibeberapa bagian saya seperti kesulitan menikmati dialog pemain saking. Kemudian acting beberapa pemain yang saya pikir harusnya bagus, kok ya jelek ya? Malah actingnya Fero yang terbilang baru didunia film paling ok menurut saya. Oh ya, bicara soal bahasa, semoga sih saya salah dengar ya, cuma ada 1 bagian yang Mikha ngomongnya pakai bahasa Ambon dan bukan Manado.. Haha.. Iya saya se-detail itu. 

Soal cerita juga ada beberapa bagian yang menurut saya ga penting dan malah ada bagian yang penting yang kok ga ada ya?. Macam kemunculan seorang peremuan yang tiba-tiba menolong Joni yang mabuk ditengah jalan. Lah datang dari mana dia? Trus kok tetiba bisa main peluk si Joni.. Hmmm.. Terus yang bagian Joni mengunjungi rumah Brando, saya berharap lebih disitu. Tapi ya begitu aja. Huaaa..  Bagian yang penting yang menurut saya harusnya lebih panjang tuh dibagian ending film-nya. Saat ulang tahun Pinkan, Joni entah darimana juga tiba-tiba muncul. Ngomong ngomong ngomong trus sudah kelar.. Hah.. Saya yang lagi sangat menikmati, yang air matanya lagi bleberan kemana-mana kek digantung. Udah nih? Dah kelar filmnya? *buruburulapairmata*.

Poin-poin plus film ini tentu saja terletak pada pemandangan alam Manado, Tomohon, Tondano yang indah sekali!. Bagus ngambilnya sampai bikin saya rasanya pengen pesan tiket terus pulang. Kemudian bagian-bagian cerita yang bikin ngakak. Ada juga bagian yang sedih, tapi karena bahasanya saya malah ngakak sambil nangis. Hahaha.. Gado-gado benar film ini, mainin perasaan saya. #pyanakanyagakbisadiginiin. 

Oh ya, kenapa saya bisa nangis nonton film ini? Ya karena saya berasa terhubung dengan ceritanya. Kepulangan si Joni setelah 18 tahun membuat saya berandai-andai bisa ketemu Flora. Mencari tau kemana dia dalam 27 tahun hidup saya :’) Ahh.. Itu memang bagian paling rapuh dalam diri saya. Hal-hal yang menyakut kepergian orang terkasih yang bukan disebabkan oleh kematian. #lahjadicurhat #abaikan

Owh ya orang Manado yang ada dirantau kalau nonton film ini pasti berasa nostalgia banget deh. Apalagi banyak bahasa yang sudah jarang banget saya dengar, muncul di film ini. Belum lagi kalimat-kalimat dalam bahasa Belanda. Ahh.. Kangen almarhum Oma saya 😢😢

Kalau ditanya sih saya tetap menganjurkan buat penikmat film untuk nonton film ini di bioskop. Sayangnya di Jakarta hanya diputar di Blok M saja. Syukurnya ga jauh dari kantor. 

Poin plusnya pas nonton semalam, ehh ada si Oom Joni duduk persis dibelakang saya. Si Kapista Kolotidi 😂😂😂