Review: Senjakala di Manado

Setelah Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1, film ini adalah film ke dua yang saya tonton di bioskop setelah melahirkan. Cuma entah kenapa lupa saya ceritain disini. Ya udah lah ya XD

Alasan kuat kenapa saya merasa wajib banget nonton film ini ya so pasti karena di judul ada Manado-nya. Iya sesederhana itu. Apalagi pas dengar Ost. nya yang dinyanyiin Once Mekel.. Wah langsung catat dikalender tanggal penayangan perdananya. Syukur banget punya sohib yang juga punya pengertian yang sama bahwa nonton Film Indonesia itu ya di bioskop dan ga perlu sampai nunggu keluar di tv. Ya.. Kalau bukan kita, siapa lagi? 😊😊😊

Sinopsis a la saya: Film ini bercerita tentang kepulangan seorang Ayah bernama Joni Wempie Lengkong (Ray Sahetapy) yang meninggalkan istrinya Lucy (Mikha Tambayong) dan Mamanya (Rima Melati) ditengah malam untuk menjadi seorang pelaut. Disaat dia kembali ke rumah setelah 18 tahun, istrinya Lucy ternyata sudah meninggal karena sakit. Dan anaknya Pinkan (Mikha Tambayong) tidak langsung menerima kehadirannya. Pinkan mempunyai pacar bernama Brando (Fero Walandouw). Namun kehadiran Joni mengganggu hubungan Pingkan dan Brando. Joni merasa semua pria seperti dirinya. Brengsek. Apakah Joni berhasil memenangkan hati anaknya setelah 18 tahun terpisah? Benarkah Brando juga brengsek seperti Joni? Silahkan nonton sendiri.. Haha.. 

Lokasi pengambilan gambar film ini sepenuhnya di Manado, bahasa yang digunakan pun Manado. Ahh.. Langsung kangen kampung halaman. Cuma sayang nih, ada banyak hal yang mengganggu saya yang seorang detail oriented ini (entah istilah itu beneran ada atau enggak). Macam musiknya yang menurut saya terlalu ganggu saking kencangnya. Bahkan dibeberapa bagian saya seperti kesulitan menikmati dialog pemain saking. Kemudian acting beberapa pemain yang saya pikir harusnya bagus, kok ya jelek ya? Malah actingnya Fero yang terbilang baru didunia film paling ok menurut saya. Oh ya, bicara soal bahasa, semoga sih saya salah dengar ya, cuma ada 1 bagian yang Mikha ngomongnya pakai bahasa Ambon dan bukan Manado.. Haha.. Iya saya se-detail itu. 

Soal cerita juga ada beberapa bagian yang menurut saya ga penting dan malah ada bagian yang penting yang kok ga ada ya?. Macam kemunculan seorang peremuan yang tiba-tiba menolong Joni yang mabuk ditengah jalan. Lah datang dari mana dia? Trus kok tetiba bisa main peluk si Joni.. Hmmm.. Terus yang bagian Joni mengunjungi rumah Brando, saya berharap lebih disitu. Tapi ya begitu aja. Huaaa..  Bagian yang penting yang menurut saya harusnya lebih panjang tuh dibagian ending film-nya. Saat ulang tahun Pinkan, Joni entah darimana juga tiba-tiba muncul. Ngomong ngomong ngomong trus sudah kelar.. Hah.. Saya yang lagi sangat menikmati, yang air matanya lagi bleberan kemana-mana kek digantung. Udah nih? Dah kelar filmnya? *buruburulapairmata*.

Poin-poin plus film ini tentu saja terletak pada pemandangan alam Manado, Tomohon, Tondano yang indah sekali!. Bagus ngambilnya sampai bikin saya rasanya pengen pesan tiket terus pulang. Kemudian bagian-bagian cerita yang bikin ngakak. Ada juga bagian yang sedih, tapi karena bahasanya saya malah ngakak sambil nangis. Hahaha.. Gado-gado benar film ini, mainin perasaan saya. #pyanakanyagakbisadiginiin. 

Oh ya, kenapa saya bisa nangis nonton film ini? Ya karena saya berasa terhubung dengan ceritanya. Kepulangan si Joni setelah 18 tahun membuat saya berandai-andai bisa ketemu Flora. Mencari tau kemana dia dalam 27 tahun hidup saya :’) Ahh.. Itu memang bagian paling rapuh dalam diri saya. Hal-hal yang menyakut kepergian orang terkasih yang bukan disebabkan oleh kematian. #lahjadicurhat #abaikan

Owh ya orang Manado yang ada dirantau kalau nonton film ini pasti berasa nostalgia banget deh. Apalagi banyak bahasa yang sudah jarang banget saya dengar, muncul di film ini. Belum lagi kalimat-kalimat dalam bahasa Belanda. Ahh.. Kangen almarhum Oma saya 😢😢

Kalau ditanya sih saya tetap menganjurkan buat penikmat film untuk nonton film ini di bioskop. Sayangnya di Jakarta hanya diputar di Blok M saja. Syukurnya ga jauh dari kantor. 

Poin plusnya pas nonton semalam, ehh ada si Oom Joni duduk persis dibelakang saya. Si Kapista Kolotidi 😂😂😂 

Advertisements

9 thoughts on “Review: Senjakala di Manado

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s