Vaksinasi di Rumah Vaksin

images.jpg

Source: here

Waktu masih hamil, teman kantor saya sudah mengingatkan soal biaya vaksin yang terbilang gede. Waktu dengar sih ya masih santai lah. Meski memang dia sudah nyebut kalau angkanya itu bisa sejuta lebih saban kali vaksin.

Pas dijalani kok ya berasa banget ya. Puncaknya pas abis vaksin PCV di RS langganan, saya merasa harganya terlalu mahal jika dibandingkan ke beberapa orang teman yang vaksin di RS lain. Waktu WA sama ci Debby, ci Deb ada nyebut soal Rumah Vaksin (saya singkat menjadi RV). Kemudian dimulailah pencarian informasi tentang RV didunia maya. Ternyata sudah banyak Ibu yang bawa anaknya kesana dan puas. Jadi diputuskan lah kalau vaksin L berikutnya di RV.

Sebenarnya sudah telat 2 minggu dari jadwal sih, tapi karena masih bulan ke 4 jadi gpp lah. Jadwalnya itu vaksin Pediacel sama Rotateq. Cuma ternyata Pediacel kosong. Jadilah diganti ke Pentabio plus Polio.

Hari sabtu pagi (08/10/2016) kami menuju ke RV Grogol yang berlokasi di Jelambar. Karena belum pernah main ke arah sana, jadilah mengandalkan Waze dan syukurlah ga tersesat sama sekali. Namanya Rumah Vaksin ya bentuknya memang di rumah 😀 *Aposeee*.

IMG20161008090633.jpg

Kesan pas masuk kok agak sempit ya, kata mbanya lagi renovasi. Nanti pindah disebelahnya.

Pas nyampe L ditimbang badannya. Dan ini yang selalu bikin saya galau berat pastinya berapa. Kalau timbangan manual itu 7,8kg sedangkan ditimbangan digital di rumah beratnya 7,5kg. 3 ons sih bedanya, cuma kalau bayi kan selisih segitu lumayan. Pas masuk ke ruang dokter diukur panjang, sama lingkar kepala. Dokter Tri Permatadewi pun ngeluarin map yang isinya chart perkembangan anak. Dari berat, panjang sama lingkar kepala diatas rata-rata. Cuma rangenya masih dalam batas normal sesuai umur.

Di samping meja Bu Dokter ada kulkas yang dilengkapi pengukur suhu tempat menyimpan vaksin. Sebelum menyuntikkan vaksin, Bu Dokter jelasin semua secara jelas soal bungkus vaksin Pentabio yang bakal berubah warna kalau suhunya sudah tidak sesuai. Kemudian ditunjukkin tanggal kadaluarsa dan dijelasin secara singkat apa isinya. Jadi ya gak asal suntik. Waktu ngasih Rotateq juga gitu, ga terburu-buru, Bu Dok memastikan semua cairan imun masuk dan ditelan. Yang lucu pas L berontak saya coba menghibur. Sama Bu Dok ga dibolehin, justru kalau nangis malah cairannya gampang ketelan katanya.. Ok lah 😀

Oh ya, disini L diresepi zat besi Ferlin *terus pas nulis ini baru sadar belum dikasih ke L XD*, kata Bu Dokter, bayi diatas 4 bulan atas rekomendasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) perlu diberikan zat besi untuk mencegah defisiensi besi. Klink link di sini untuk baca lengkapnya. Saat pemberian zat besi ini BAB bayi akan cenderung menghitam dan keras. Kalau sampai benar-benar keras dan jadi ga BAB pemberian dihentikan sementara.

IMG20161008090719.jpg

Total bayar vaksin kemarin itu IDR 600k dengan rincian Pentabio + OPV = 275k dan Rotateq = 325k. Untuk daftar harga vaksin di Rumah Vaksin bisa dilihat langsung di web rumahvaksin.net. Pembayaran disini bisa cash, debit BCA atau kartu kredit tapi kena charge 2% kalau ga salah. Puji Tuhan banget kemarin L dapat kunjungan dan angpau dari Namborunya, jadi kami cuma nambahi cepe’ aja XD

IMG20161008182200.jpg

Lucu ya stempelnya, jadi kalau lupa Bu Dok ngomong apa tinggal lihat saja biar ga panik 😀

Cerita Selesai Vaksin

Sejujurnya saya takut nih waktu milih yang Pentabio buat L, takut L sampai demam. Waktu vaksin pertama saya pilih Hexaxim dan efeknya L cuma agak hangat 2 jam. Selebihnya aman sentosa. Makin parno pas baca-baca ada yang demam sampai 40°c. Teman daycare L seminggu sebelumnya vaksin ini juga demam tinggi. Lagi-lagi saya bisa tenang setelah WA dengan Ci Debby, baby K ga sampai demam cuma sumeng saja katanya. Sambil jalan ke RV sambil berdoa semoga kondisi L juga fit biar efek vaksin ga sampai gimana banget.

Setelah pulang kelihatan L kesakitan dibekas suntikan. Saya kompres pakai botol dingin dilapisi kain. Kakinya sampai ditekuk dan gak berani gerakin sama sekali. Pas saya gendong L langsung nangis. Persis 6,5 jam setelah vaksin suhu badan L mulai naik tapi kemudian berhenti di angka 37.3°c dan stay disitu sampai beberapa lama. Disaat ini L nangis terus dan jadi kagetan. Dia berusaha keras buat tidur, tapi terus dengar kasur gerak sedikit saja langsung kaget dan nangis. Total 5 jam dia nangis. Lihatnya kasihan banget. Tadinya saya mau kompres air hangat langsung ga jadi karena kesentuh dikit badannya nangis. Untung dirumah ada sedia kompresan yang bisa dibeli bebas. Tempel itu sampai pagi.

Selama proses itu saya kasih ASI terus ke L, sufor dihentikan. Mompa hampir setiap jam, maklum hasil sekali mompa selalu dibawah 80ml. Katanya dengan banyak cairan bisa bikin suhunya turun. Syukurlah L panasnya  ga perlu sampai ditambahin obat penurun panas.

Pas pagi bangun sudah ceria kembali. Kaki sudah bebas ga pakai ditekuk, bahkan dia langsung main tengkurap. Jam 10 pagi suhu mulai agak naik tapi L tetap ceria. Setelah itu kembali normal dan Puji Tuhan sampai hari ini dia sehat ceria. Tanggal 22 nanti bakal balik lagi ke RV untuk vaksin PCV kedua.

Buat Mama, Mami, Ibu, Bunda, Inang, Ine (Lanjutin sendiri) yang berlokasi di Jakarta, boleh dipertimbangkan tempat ini untuk vaksin anaknya 🙂