Kerja Sama

Hari sabtu 11 April 2015, saya seharian di rumah sakit (rs) nemenin R yang waktu itu dirawat. Ga ada rencana sebenarnya untuk berlama-lama di rs, tapi karena pagi itu tante dan oom masih belum sampai di rs, dan pas banget R dapat jadwal untuk Endoskopi, jadilah saya memutuskan untuk tinggal di rs saja. Padahal sebenarnya hari itu jadwal padat karena harus mengambil pesanan yang sudah selesai dibeberapa vendor.

Bersyukur banget waktu Ai bilang kalau dia ga keberatan untuk jalan sendiri ngambilin barang-barang divendor. Pas sore saya ke kontrakan, si Ai nongol dengan bawaan bejibun. Dus-dus besar yang mana isinya adalah souvenir dan undangan kami. Hujan pula sore itu. Untung ada Eric yangย  bantuin Ai angkatin dus disaat hujan. Terima kasih banyak buat Eric, sang suami tercinta dari Mei. Kalian tetanggaku idolaku.. Haha ๐Ÿ™‚

Waktu Ai ngomong kalau ga apa-apa dia jalan sendiri, saya tambah bersyukur sekali punya calon suami Ai. Dari awal Ai sudah ngomong kalau dia ga begitu ngerti soal persiapan pernikahan, tapi kalau butuh bantuan Ai akan dengan senang hati bantuin. Maka dari awal pun saya sudah berbagi tugas dengan Ai. Misal, Ai urusin vendor ini, saya urusin vendor itu. Dengan begitu saya tau kalau saya tidak berjuang sendiri untuk persiapan pernikahan kami. Semua kami bahas dan saling follow up. Kalau ada yang kurang kami bisa saling mengingatkan. Ga ada satu pun yang terlewat tanpa sepengetahuan dari masing-masing kami. Tapi bukan kah semuanya juga bgitu ya? ๐Ÿ˜€

Dari sini kami belajar cara bekerjasama yang baik. Ibarat kata, persiapan pernikahan ini jadi tempat melatih diri untuk bisa menjadi partner yang bisa diandalakan. Kelak saat sudah menjadi pasangan suami istri, kehidupan berumahtangga tentunya lebih rumit daripada persiapan nikah kan?.