Tips Bertemu Calon Mertua dan Keluarganya

Kali ini saya mau sedikit berbagi ilmu yang sudah saya dapatkan dari pengalaman sendiri dan masukkan dari beberapa orang. Berhubung calon mertua saya adalah orang Batak, yang memang masih memegang kuat tradisinya, jadi saya benar-benar mencari banyak informasi sebelum bertemu. Maklum, saya datang dari keluarga yang tergolong santai, daripada saya salah, lebih baik membenahi diri sebelum bertemu. Tapi tips ini tidak pakem yah, bisa disesuaikan dengan kondisi yang ada dimasing-masing keluarga. So, berikut tips nya:

1. Jangan pernah pakai celana pendek atau busana terlalu santai saat akan mengunjungi camer atau keluarga besarnya. Ini masukkan pertama yang saya dapat dari istri sepupunya Ai (yang berdarah Jawa) yang memang sudah ditatar oleh para Namboru sebelumnya. Kalau memang bukan tipe perempuan tomboy kayak saya, pakailah terusan yang cantik. Saya pun kemarin sempat diprotes karena beberapa kali bertemu keluarga memakai celana jeans dan blouse. Ya protesnya sih lebih ke masukkan ya, katanya biar lebih ayu jadi perempuan. Dan buat saya sih ini ga masalah.

2. Saat pertemuan keluarga, jangan nempel terus dengan pasangan. Karena biasanya posisi duduk pun akan terpecah dengan sendirinya. Cobalah berbicara dengan para Namboru, saudaranya perempuan, atau ke Mama camer. Beruntungnya saya waktu itu bisa langsung dekat dengan istri sepupu Ai, jadi kemana dia pergi selalu saya ikuti. Haha.

Source: barkpost.com

Source: barkpost.com

3. Ringan tangan lah saat berkumpul, jangan hanya duduk saja. Macam bantu siapin minuman didapur, atau bantuΒ  membawa piring kotor ke dapur setelah makan. Apa saja yang sekiranya bisa dilakukan. Rasanya ga cuma di perkumpulan Batak sih, ditempat saya di Minahasa juga begini. Perempuan yang terlihat rajin pasti lebih cepat disayang. Jadi buat kamu yang masih suka malas, ayo mulai dilatih biar bisa rajin..haha *ngaca* Tapi melakukannya jangan dengan terpaksa ya, karena raut muka itu ga bisa bohong lho. πŸ˜€

4. Jangan pernah duduk dengan posisi persis berhadapan atau persis bersebelahan dengan camer yang berbeda gender (saya ga tau apakah ini juga berlaku dengan orang tua lainnya macam Bapak Tua, Inang Tua, dll). Pastikan ada orang lain diantara kita dengan camer , bisa pasangan atau camer yang satu lagi. Saya sudah lupa penjelasannya kenapa, tapi kayaknya memang tidak sopan kalau saya yang perempuan berhadapan atau bersebelahan langsung dengan camer laki-laki.

5. Pelajari panggilan-panggilan yang ada, macam Namboru, Uda, Tulang, dan lainnya. Klik link ini untuk daftar panggilan yang lebih lengkap. Waktu pertama kali ke rumah Uda di Cibubur, saya ditegur sama salah satu Namboru, katanya saya ga boleh manggil Uda, hanya Ai saja yang boleh. Kalau saya ada lain lagi panggilannya tapi trus saya lupa apa. Rasanya untuk sebutan umum sih Namboru dan Amang Boru, soalnya saya BBM-an dengan Namboru Ai tetap memakai kata Bou (disingkat dari kata Namboru). Untuk calon mertua sendiri harusnya saya panggil dengan sebutan Amang dan Inang, tapi karena belum terbiasa, ya masih saya panggil Oom dan Tante. Mereka sih syukurnya mengerti. Jadi dari saya sendiri yang mesti belajar terus. Ini juga berlaku bagi suku-suku lain yang memang punya panggilan sendiri, macam suku Sangihe juga ada panggilannya. Tapi Minahasa sudah ga ada, atau saya yang ga tau? πŸ˜€

Seperti yang sudah saya jelasin dikalimat pembuka bahwa tips ini sebenarnya bisa berlaku secara umum dan bukan untuk kalangan tertentu saja. Selebihnya tinggal penyesuaian ke keluarga masing-masing. Macam si Ai yang bisa bebas banget cekikikan bareng Papa saya tanpa sungkan sejak hari pertama dia datang ke rumah πŸ™‚

Sekian tips dari saya, akan saya tambahkan kalau memang ada lagi. Sekarang mau minta teman-teman untuk berbagi tips dengan saya dan pembaca lainnya, syukur-syukur kalau ada yang mau berbagi pengalaman bertemu dengan Calon Mertua dan keluarga besar untuk pertama kali πŸ™‚